ASESMEN ANAK KESULITAN BELAJAR DALAM
“KETRAMPILAN MEMBACA PERMULAAN” DI KELAS RENDAH
1.
Latar
Belakang Masalah
Ketrampilan membaca pada umumnya diperosleh dengan
cara mempelajarinya di sekolah. Ketrampilan berbahasa ini sangatlah unik serta
penting dalam pembelajaran dan sebagai alat komunikasi bagi kehidupan
sehari-hari. Membaca bisa dibilang sangat unik karena ketrampilan ini tidak
semua orang memilikinya. Pdahal, membaca mampu mengembangkannya menjadi alat
untuk memberdayakan dirinya atau bahkan menjadikannya budaya bagi dirinya
sendiri. Menurut Iskandarwassid (2008: 245), membaca merupakan hal yang penting
bagi pengembangan pengetahuan karena prosentase transfer ilmu pengetahuan
terbanyak dilakukan melalui membaca.
Menurut Iskandarwassid (2008: 245) Fakta dilapangan
menunjukkan bahwa masyarakat negara maju ditandai oleh berkembangnya budaya
membaca. Negara-negara yang masyarakatnya telah maju dan kuat seperti Amerika,
Jepang, Australia, dan Prancis. Dalam diri masyarakat di negara-negara tersebut
sudah memiliki tingkat membaca yang tinggi. Sementara itu, masyarakat di
negara-negara berkembang masih rendah tingkat membacanya ditandai dengan rendahnya
kemampuan membacanya dan minat baca yang belum tertanam dengan baik. Hal ini
terjadi pada masyarakat Indonesia yang menduduki pringkat terakhir dari 27
negara yang diteliti (Iskawandarwassid,2008: 245)
Membaca merupakan kegiatan untuk mendapatkan makna
dari apa yang tertulis dalam teks. Oleh karena itu, siswa harus mempersiapkan
mental dalam sistem kognitifnya. Dengan demikian, kegiatan membaca bukanlah
sebuah aktivitas yang mudah melainkan dalam kegiatan membaca harus diukur
dengan kemampuan menjawab pertanyaan yang disusun mengikuti teks tersebut
sebagai alat evaluasi. Hal ini juga sangat dipengaruhi oleh factor-faktor dari
dalam maupun luar peserta didik .
Keberadaan anak dengan kesulitan belajar terutama
kesulitan belajar membaa di sekolah sering dijumpai. Mereka sering dianggap
oleh guru-guru maupun teman-temannya sebagai anak yang lambat dalam belajar
atau anak yang bodoh karena prestasi akademik mereka yang buruk. Latar belakang
anak dengan kesulitan belajar membaca sering dipengaruhi oleh berbagai kondisi
eksternal dan internal diri anak.
Beberapa hasil penelitian berikut menggambarkan
keragaman anak yang mengalami kesulitan belajar membaca. Penelitian
Pujaningsih, dkk, pada tahun 2002 di kecamatan Berbah menemukan anak
berkesulitan belajar sebesar 36% yang terdiri dari 12% lamban belajar (slow
learner), 16% berkesulitan belajar spesifik (LD/learning disability) dan 17%
tunagrahita (mentally retarded). Menurut Marlina (2006), mengungkapkan bahwa
terdapat 55 anak berkesulitan belajar spesifik (Learning Disability/LD) di 8 SD
di Padang.
Selain itu, permasalah yang sering ditimbulkan oleh siswa yang mengalami
sangatlah kompleks. Anak kesulitan belajar yang termasuk anak kesulitan belajar
membaca sering mengalami kegagalan dalam kegiatan sehari-harinya yang dapat
menyebabkan kensep diri yang buruk, perkembangan emosi yang buru serta
kepribadian yang negatif. Bila kegagalan-kegagalan yang dialami siswa tidak
segera diatasi maka permasalaha tersebut
akan menyebabkan depresi yang berat. Permasalahn yang dihadapi anak
berkesulitan belajar di pengaruhi oleh banyak faktor. Terdapat siswa yang
mengalami kesulitan belajar yang sama tetapi faktornya yang mempengaruhi
berbeda. Begitu juga sebaliknya, terdapat faktor yang sama tapi kesulitan
belajarnya yang berbeda. Faktor-faktor tersebut dapat ditimbulkan dari dalam
diri atau dari luar diri siswa tersebut.
Kemampuan membaca menjadi dasar dalam penguasaan
berbagai materi dalam pembelajaran. Sehingga permasalahan membaca pada anak
seringkali berkaitan dengan rendahnya pengusaan mata pelajaran di sekolah. Soal
yang menggunakan cerita ( terutama matematika), berbagi intruksi dalam sebuah
tes, bacaan pendukung dalam mata pelajaran ( matematika, ilmu pengetahuan
social, ilmu pengetahuan alam, penjaskes, dan lainya) yang membutuhkan
kemampuan membaca yang baik. Ketidak mampuan membaca pada siswa tentunya
menjadi hal yang sangat serius untuk di tangani.
Terrell (Smith, 1998) meyakini bahwa kemampuan
belajar yang rendah menyebabkan permasalahan membaca pada anak. Permasalahan
bahasa sering terkait dengan hambatan memahami orang lain, berbicara jelas dan
mencari kata yang sesuai untuk mengemukakan ide/kemauan dan kurang mampu
dalammengatur bahasa untuk komunikasi yang efektif (Smith, 1998; Harwell, 2001:
36). Kesulitan membaca awal bila tidak segera ditangani akan semakin bertambah
berat daklam pelajaran bahasa yang lebih komplek, misalnya: kesulitan membca
pemahaman, kesulitan dalam pola kalimat, kesulitan menulis karangan, dll. Kesultan lain yang
dapat ditimbulkan adalah saat berkomunikasi dan berinteraksi kepada orang lain
serta mengukapkan ide ataupun menangkap ide orang lain. Bukan karena tidak
peduli kepada sekitarnya tetapi sulit memproses informasi secara verbal.
Torgesen dalam (Benner, et al, 2005) menyatakan
bahwa permasalahan yang dialami siswa saat membaca dipilah menjadi 2 area,
yaitu: kelancaran dalam mengenali huruf secara tepat dan cepat. Anak tidak
mampu mengkaitkan bunyi antar huruf dan kata dalam bacaan. Area yang kedua,
terkait dengan kemampuan berbahasa oral, salah satu diantaranya pemahaman
mendengar. Siswa dengan masalah pada kemampuan membaca awal mempunyai masalah
dengan kemampuan memahami apa yang ia dengar karena identifikasi huruf dan
kata, kata menjadi kalimat mengalami permasalahan tersebut.
Penelitian Greenbaum dkk pada tahun 1996 (Benner et
al,2005) menyatakan bahwa dari sampel remaja dengan masalah sosial berusia 8-11,
12-14, dan 15-18 mempunyai permasalahan membaca sebesar 54 %, 83% dan 85%. Anak
dengan masalah membaca permulaan yang disertai kemampuan adaptasi sosial yang
rendah mempunyai pengalaman emosional yang negatif dan mengarah pada
permasalahan antisosial yang kompleks di kemudian hari.
Bedasarkan hal tersebut maka perlu dilakuakn
penelitian “Asesmen Anak Kesulitan
Belajar dalam “Ketrampilan Membca Permulaan” di kelas rendah”
2.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
faktor-faktor yang mempengaruhi siswa berkesulitan belajar membaca permulaan?
2. Bagaimana
permasalahan siswa berkesulitan belajar membaca permulaan?
3. Bagaiman
peran orangtua, guru dan lingkungan pada anak kesulitan belajar membaca
permulaan?
4. Bagaimana
upaya penanganan permasalahan yang dialamai anak kesulitan belajar membaca permulaan?
3.
Tujua
Penelitian
Dari latar belakang tersebut maka tujuan dari
penelitian ini untuk mengetahui:
1. Faktor-faktor
yang mempengaruhi siswa berkesulitan belajar membaca permulaan,
2. Permasalahan-permasalahan
yang dialami siswa berkesulitan membaca permulaan,
3. Peran
orang tua, guru, dan lingkungan pada siswa berkesulitan membaca permulaan,dan
4. Upaya-upaya
yang dilakukan untuk penanganan permasalahan anak berkesulitan belajar membaca
permulaan.
4.
Manfaat Penelitian
1. Bagi
siswa
Siswa aka lebih mengenal dirinya sendiri
dan permasalahan yang sedang dialaminya(khususnya kesulitan belajar membaca
permulaan), sehingga anak dapat mencari solusi yang paling tepat bagi dirinya
melalui berbagi sumber di sekitarnya. Hal ini berdampak secara akademik dan
psikoligis bagi kemajuan kemampuan siswa.
2. Bagi
guru
Melalui kegiatan penelitian ini, para
guru akan semakin peka terhadap keberadaan anak kesulitan belajar yang berada
dalam naungannya dan menambah pengetahuan mengenai anak kesulitan belajar
khusus membaca permulaan sehingga mampu memberikan penangan permasalahan yang
dialami siswa secara efektif.
3. Bagi
Orang Tua
Sebagai
pengetahuan tentang kondisi anak mereka,sehingga mampu mendukung anak secara
maksimal dalam membantu menghadapi permasalahan anaknya.
4. Bagi
Peneliti
Penelitian ini dapat menambah
wawasan, pengetahuan, pengalaman tentang siswa berkesulitan belajar khususnya
dalam membaca permulaan.
KAJIAN PUSTAKA
A.
Hakikat
Membaca Permulaan
1.
Pengertian
Membaca Permulaan
Ketrampilan membaca pada umumnya diperoleh dengan
cara mempelajarinya di sekolah. Ketrampilan berbahas ini merupakan suatu
ketrampilan yang sangat unik serta berperan penting bagi perkembangan
pengetahuan, dan sebagai alat komunikasi bagi kehidupan manusia. Seseorang akan
memperoleh informasi, ilmu, dan pengalaman dengan cara membaca. Dengan membaca
seseorang dapat mempertajam pemikiranya dan memperluas wawasannya. Oleh sebab
itu peran guru mengajarkan membaca di sekolah sangat penting.
Menurut klien, dkk (Farida Rahim, 2005: 3), membaca
mencakup (1) membaca merupakan suatu proses, (2) membaca adalah strategis, dan
(3) membaca merupakan interaktif. Membaca merupakan suatu proses dimana
informasi dari teks dan pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca mempunyai peranan
yang utama dalam membentuk makna.
Glenn Doman (Anna Yulia, 2005: 19) mengemukakan
bahwa membaca merupakan salah satu fungi yang paling penting dalam hidup dan
dapat dikatakan bahwa semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca.
Membaca dapat diartikan sebagai suatu metode yang digunakan untuk berkomunikasi
dengan diri sendiri dan kadang-kadang dengan orang lain yaitu mengkomunikasikan
makna yang terkandung atau tersirat pada lambang-lambang tertulis (Henry Guntur
Tarigan, 1985: 8). Menurut Lerner (Rini Utami Aziz, 2006: 15), kemampuan
membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang studi. Jika anak pada
usia permulaan sekolah tidak segera memiliki kemampuan membaca, ia akan
mengalami kesulitan dalam mempelajari bidang studi lain. Dariuraian beberapa
pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa membaca adalah suatu proses
menafsirkan simbol-simbol dan lambang-lambang dalam bahasa yang diikuti oleh
pengalaman pembaca yang digunakan sebagai alat untuk menginterpretasikan
simbol-simbol dan lambang-lambang tersebut sehingga menjadi suatu kata atau
kalimat yang mempunyai makna.
Oleh karena
itu, dapat disimpulkan bahwa membaca permulaan adalah suatu aktivitas untuk
mengenalkan rangkaian huruf dengan bunyi-bunyi bahasa. Membaca ada dua yaitu
membaca permulaan yang dipelajari siswa kelas 1 dan 2, dan membaca pemahaman
yang dipelajari siswa sejak kelas 3. Membaca permulaan ini dipelajari di kelas
1 dan 2 mempunyai tujuan agar siswa memiliki kemampuan memahami dan menyuarakan
tulisan dengan intonasi yang tepat. Selain itu, membaca permulaan sebagai dasar
untuk dapat membaca lanjut.
2.
Tujuan Membaca Permulaan
Iskandarwassid (2008: 289) menyampaikan bahwa
tujuan pembelajaran membaca permulaan bagi peserta didik adalah sebagai
berikut:
a. mengenali
lambang-lambang (simbol-simbol bahasa),
b. mengenali
kata dan kalimat,
c. menemukan
ide pokok dan kata-kata kunci, dan
d. menceritakan
kembali isi bacaan pendek.
Menurut Herusantosa
(1992: 20), tujuan pembelajaran membaca permulaanagar peserta didik mampu
memahami dan menyuarakan kalimat sederhana yang ditulis dengan intonasi yang
wajar, peserta didik dapat membaca kata-kata dan kalimat sederhana dengan
lancar dan tepat dalam waktu yang relatif singkat (Saleh Abbas, 2006: 103).
3.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Kemampuan Membaca
Menurut
Farida Rahim (2005: 16), mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
kemampuan membaca adalah sebagai berikut.
a. Faktor
Fisiologis
Faktor fisiologi meliputi kesehatan
fisik, pertimbangan neurologis, dan jenis kelamin. Menurut beberapa ahli,
keterbatasan neurologis seperti cacat otak dan kekurangmatangan secara fisik
merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan peserta didik tidak berhasil
dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman mereka.
b. Faktor
Intelektual
Terdapat hubungan positif antara
kecerdasan yang diindikasikan oleh IQ dengan rata-rata peningkatan remedial
membaca tetapi tidak semua siswa yang mempunyai kemampuan intelegensi tinggi
menjadi pembaca yang baik.
c. Faktor
Lingkungan
Lingkungan yang meliputi latar belakang
dan pengalaman peserta didik mempengaruhi kemampuan membacanya. Peserta didik
tidak akan menemukan kendala yang berarti dalam membaca jika mereka tumbuh dan berkembang
di dalam rumah tangga yang harmonis, rumah yang penuh dengan cinta kasih,
memahami anak-anaknya, dan mempersiapkan mereka dengan rasa harga diri yang
tinggi.
d. Faktor
sosial ekonomi siswa
Status sosial ekonomi siswa
mempengaruhi kemampuan verbal siswa. Hal ini dikarenakan jika peserta didik
tinggal dengan keluarga yang berada dalam taraf sosial ekonomi yang tinggi
kemampuan verbal mereka juga akan tinggi. Hal ini didukung dengan fasilitan
yang diberikan oleh orang tuanya yang berada pada taraf sosial ekonomi tinggi.
Lain halnya peserta didik yang tinggal di keluarga yang sosial ekonomi rendah.
Orangtua mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan anaknya dan anaknya cenderung
kurang percaya diri.
e. Faktor Psikologis
Faktor psikologis meliputi motivasi,
minat, dan kematangan sosial,emosi, serta penyesuaian diri.
- Hakikat Siswa
Berkesulitan Belajar
1. Pengertian Berkesulitan Belajar
Erman Amti dan Marjohan (1992: 67)
(Sri Rumini, 2003: 7) Kesulitan belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami
oleh peserta didik dan menghambat kelancaran proses belajarnya. Kondisi
tertentu tersebut ada dalam dirinya yaitu berupa kelemahan-kelemahan yang
dimilikinya maupun lingkungan yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Oleh
karena itu, dari pernyataan tersebut dapat dibagi menjadi tujuh golongan yaitu:
a. mempunyai
IQ tinggi, bakat akademik tinggi, tetapi prestasi belajarnya hanya rata-rata
kelas, atau bahkan di bawah rata-rata kelas. Peserta didik ini disebut under
achiever,
b. memiliki
inteligensi normal, tetapi tidak dapat dimanfaatkannya secara baik. Mereka
peserta didik yang mempunyai keterlambatan akademik,
c. mempunyai
IQ sekitar 70-90 dan mempunyai kemampuan yang kurang memadai. Mereka termasuk
anak slow learner,
d. malas
belajar karena kurang motivasi belajar,
e. sikap
dan kebiasaan belajar yang buruk seperti menunda-nunda tugas, belajar pada saat
akan ujian saja,
f. ditempatkan
pada kelas yang tidak sesuai seperti ditinjau dari umur, kemampuan, minat
sosial, peserta didik terlalu tinggi atau terlalu rendah dalam kelas, dan
g. sering
tidak hadir di sekolah karena sakit atau membolos sehingga kehilangan kesempatan
belajarnya.
Hammill, et al.(1981) (Sri Rumini, 2003) Kesulitan
belajar adalah beragam bentuk kesulitan yang nyata dalam aktivitas mendengarkan,
bercakap-cakap, membaca, menulis, menalar, dan/atau dalam berhitung. Gangguan
tersebut berupa gangguan intrinsik yang diduga karena adanya disfungsi sistem
saraf pusat. Kesulitan belajar bisa terjadi bersamaan dengan gangguan lain
(seperti gangguan sensoris, hambatan sosial, dan emosional) dan pengaruh
lingkungan (seperti perbedaan budaya atau prosespembelajaran yang tidak
sesuai). Gangguan-gangguan eksternal tersebut tidak menjadi faktor penyebab
kondisi kesulitan belajar, walaupun menjadi factor yang memperburuk kondisi kesulitan
belajar yang sudah ada.
ACCALD (Association Committee for Children and Adult
Learning Disabilities) dalam Lovitt, (1989) Kesulitan belajar khusus adalah
suatu kondisi kronis yang bersumber dari masalah neurologis, dimana kondisi tersebut
mengganggu perkembangan kemampuan mengintegrasikan dan kemampuan bahasa verbal
maupun nonverbal. Siswa berkesulitan belajar memiliki inteligensi tergolong
rata-rata atau di atas rata-rata dan memiliki cukup kesempatan untuk belajar.
Mereka tidak memiliki gangguan sistem sensorik.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa siswa dapat
dikatakan mengalami kesulitan belajar apabila siswa tersebut tidak berhasil
mencapai tujuan yang dipersyaratkan dalam proses pembelajaran yang berdasarkan
tujuan pendidikan yang terdapat pada program sekolah, tingkat pencapaian yang
diharapkan, beradaptasi dalam kelompok, kesenjangan antara potensi dan
prestasi, serta kepribadian yang dimilikinya.
2.
Ciri-Ciri
Anak Berkesulitan Membaca
Menurut Rini Utami Aziz (2006: 16), anak yang
mengalami kesulitan membaca biasanya terlihat dari gerakannya saat membaca (ada
yang tegang, gugup, bahkan ada yang menangis) ketika disuruh membaca. Anak
sering mengalami kekeliruan dalam mengenal kata-kata sehingga untuk memahami kalimat
pun jauh dari harapan. Sering terjadi antara kalimat yang ditanyakan dan jawaban
tidak cocok. Menurut Rini Utami Azis (2006: 16), beberapa ciri khusus anak
berkesulitan membaca di antaranya:
a. memori
visual (penglihatan) dan auditorial (pendengaran) yang miskin,
b. kelemahan
memori jangka pendek dan jangka panjang,
c. kesulitan
mengingat hari dalam satu minggu dan waktu,
d. kesulitan
membedakan kiri dan kanan,
e. kurang
koordinasi dan keseimbangan,
f. sulit
mengeja kata dan huruf,
g. kurang
bisa membaca simbol bunyi, dan
h. lemahnya
kemampuan berpikir konseptual.
3.
Dampak
Kesulitan Belajar
Menurut
Darmiyati Zuchdi dan Budiasih (1997), di berbagai negara pengajaran membaca
permulaan ini merupakan persoalan yang sangat rumit. Di Indonesia, pelaksanaan
pengajaran membaca permulaan dilakukan dengan menggunakan bahan bacaan dalam
bahasa Indonesia. Padahal, sebagian besar anak Indonesia lahir dan tumbuh
sebagai insan daerah yang menggunakan bahasa daerah. Oleh karena itu,
ketidakmampuan membaca permulaan pada siswa tentunya menjadi masalah dan hal
yang serius untuk segera ditangani. Hal ini disebabkan karena kemampuan membaca
yang diperoleh pada membaca permulaan akan sangat mempengaruhi kemampuan
membaca lanjut. Sebagai kemampuan yang mendasari kemampuan berikutnya maka
kemampuan membaca permulaan benar-benar memerlukan perhatian guru. Jika
kemampuan membaca permulaan itu dasarnya tidak kuat maka pada tahap membaca
lanjut siswa mengalami kesulitan untuk dapat memiliki kemampuan membaca yang
memadai.
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis
penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Nana Syaodih Sukmadinata
(2010: 54) mengemukakan bahwa penelitian deskriptif merupakan penelitian dengan
tujuan mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti
sebagaimana adanya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
pendekatan kuantitatif, karena data yang dikumpulkan berbentuk angka–angka yang
dideskripsikan.
Penelitian ini dimaksudkan untuk
mendiskripsikan suatu keadaan, melukiskan dan menggambarkan bentuk kesulitan
membaca permulaan siswa kelas I SD Negeri Bangunrejo 2. Dalam penelitian ini
yang akan diamati adalah siswa kelas I SD Negeri Bangunrejo 2 dengan berbagai
kemampuan dan karakteristiknya. Dengan menggunakan metode deskriptif
kuantitatif, data yang akan didapatkan lebih tepat dan akurat sehingga tujuan
penelitian ini dapat tercapai.
B.
Setting
Penelitian
1. Tempat
Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas I SD Negeri
Bangunrejo 2 yang beralamat di Jalan Bangunrejo RT 56 RW 13 Kricak Yogyakarta.
Penelitian ini dilaksanakan pada
semester gasal-genap dengan alokasi waktu dari bulan Februari-Agustus 2016.
Berikut rincian jadwal pelaksanaan penelitian:
Tabel 1.
Jadwal Pelaksanaan Penelitian
|
No
|
Kegiatan
|
|
|
|
|
|
|
Waktu/
Bulan
|
|
|
|
|
|
|||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||
|
|
|
|
Oktb
|
Feb
|
|
|
Mar
|
Apr
|
Mei
|
|
Juni
|
|
|
Juli
|
|
Agust
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1.
|
Observasi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2.
|
Bimbingan proposal
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3.
|
Pengambilan data
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4.
|
Pengolahan data
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5.
|
Bimbingan bab 4-5
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6.
|
Penyelesaian skripsi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7.
|
Penyusunan jurnal
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
8.
|
Ujian sidang skripsi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
9.
|
Revisi laporan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
10.
|
Review jurnal
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
11.
|
Publikasi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
C.
Populasi
dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Penelitian
Populasi adalah keseluruhan
subjek penelitian (Suharsimi Arikunto, 2010: 173). Populasi didalam penelitian
ini adalah seluruh siswa kelas I SD Negeri Bangunrejo 2 Yogyakarta yang
keseluruhannya berjumlah 18 siswa.
2. Sampel Penelitian
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karateristik
yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2012: 62). Hal serupa juga
dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto yang mengatakan bahwa adalah sebagian atau
wakil dari populasi yang diteliti. Adapun cara pengambilan sampel dalam
penelitian ini dengan menggunakan teknik purposive
sampling, yaitu dipilih dengan pertimbangan dan tujuan tertentu (Sugiyono,
2013: 216). Sesuai tujuan penelitian ini, maka sampel penelitiannya yaitu siswa
yang mengalami kesulitan membaca permulaan yang ditandai dengan skor atau nilai
yang kurang pada hasil tes kemampuan membaca.
D. Sumber Data
Suharsimi Arikunto (2006: 129)
menyatakan bahwa sumber data dalam penelitian adalah subyek dari mana data
dapat diperoleh. Adapun pengertian data menurut Muhammad Idrus (2009: 61)
adalah segala keterangan (informasi) mengenai semua hal yang berkaitan dengan
tujuan penelitian. Selanjutnya Muhammad Idrus (2009: 86) menjelaskan data
menurut derajat sumbernya (asal diperolehnya data) dibagi menjadi data primer
dan sekunder.
1.
Data Primer
Data primer merupakan data yang diperoleh
peneliti dari sumber asli (langsung dari informan) yang memiliki informasi atau
data tersebut. Dalam penelitian ini sumber data primer didapatkan melalui hasil
tes membaca yang dilakukan peneliti terhadap siswa kelas I SD Negeri Bangunrejo
2.
2.
Data Sekunder
Jika data primer informasi atau
datanya diambil dari sumber asli, data sekunder adalah data yang diperoleh dari
sumber kedua sebagai data yang digunakan untuk mendukung pembahasan-pembahasan
yang ada di dalam
penelitian. Adapun data sekunder tersebut berupa
dokumen-dokumen nilai ulangan siswa, catatan kondisi siswa, dan foto berkaitan
dengan kegiatan membaca siswa.
E. Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah segala
sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari
sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik
kesimpulannya (Sugiyono, 2013: 38). Variabel dalam penelitian ini menggunakan
variabel tunggal karena hanya menggunakan satu variabel, yaitu kesulitan
membaca permulaan. Adapun kesulitan membaca tersebut terdiri dari lima aspek,
yaitu membaca huruf, membaca kata bermakna, membaca kata yang tidak mempunyai
arti, kelancaran membaca nyaring dan pemahaman bacaan serta menyimak atau
pemahaman mendengarkan.
F. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah
cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data. Menurut
Sugiyono (2010: 308) teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling
strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah
mendapatkan data. Muhammad Idrus (2009: 99) menambahkan bahwa untuk memperoleh
data yang sesuai tujuan penelitian, peneliti menggunakan instrumen untuk mengumpulkan
data. Dengan demikian maka kedudukan instrumen menjadi sangat penting karena
kondisi data tergantung instrumen yang dibuat. Penggunaan instrumen penelitian
berkaitan dengan teknik apa yang akan digunakan untuk mengumpulkan data.
Penelitian ini mengunakan beberapa teknik pengumpulan data, sebagai berikut.
1. Tes
Tes adalah serentetan pertanyaan
atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan,
pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau
kelompok (Suharsimi Arikunto, 2013: 193-194). Lebih lanjut dikatakan bahwa
dalam metode tes, peneliti menggunakan instrumen berupa tes atau soal-soal tes.
Soal tes yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari 5 butir tes (item)
terdiri dari 4 butir tes tertulis dan 1 butir tes lisan yang masing-masing
mengukur satu jenis subvariabel.
2. Observasi
Menurut Nana Syaodih Sukmadinata
(2010: 220) observasi (observation)
atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan
mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung. Ada dua macam
observasi menurut Sugiyono (2007: 204) dari segi proses pelaksanaan pengumpulan
data, yaitu participant observation
(observasi berperan serta) dan non
participant observation (observasi non partisipan). Selanjutnya dari segi
instrumentasi yang digunakan, maka dibedakan menjadi observasi terstruktur dan
tidak terstruktur.
Dalam penelitian ini, peneliti
menggunakan observasi non partisipan, yaitu peneliti tidak terlibat dan hanya
sebagai pengamat independen. Peneliti mencatat, menganalisis, dan membuat
kesimpulan tentang kesulitan membaca siswa kelas I SD N Bangunrejo 2. Sedangkan
dari segi instrumentasi yang digunakan, peneliti menggunakan observasi
terstruktur karena observasi telah dirancang sistematis, tentang apa yang
diamati, kapan, dan di mana tempatnya. Observasi ini berfungsi untuk menguatkan
data hasil tes kemampuan membaca. Observasi pada penelitian ini untuk
memperoleh data tentang karakteristik siswa yang mengalami kesulitan membaca
permulaan.
3. Dokumentasi
Menurut Djam’an Syatori dan Aan
Komariah (2011: 149) studi dokumentasi yaitu mengumpulkan dokumen-dokumen dan
data-data yang diperlukan dalam penelitian lalu ditelaah secara intens sehingga
dapat mendukung dan menambah keercayaan dan pembuktian suatu kejadian. Dokumen
dapat berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen
rapat, legger, agenda, dan sebagainya (Suharsimi Arikunto, 2006: 231).
Dalam penelitian ini, peneliti
menganalisis dokumen sekolah berupa catatan guru tentang kemampuan membaca
siswa, hasil belajar siswa (nilai ulangan harian) dan nilai ujian akhir
semester (UAS) pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.
G. Instrumen Penelitian
Instrumen merupakan alat yang
digunakan dalam pengumpulan data. Data-data dalam penelitian ini dikumpulkan
dengan menggunakan lembar tes, observasi, dan dokumentasi. Berikut
instrumen-instrumen untuk pengambilan data.
1. Instrumen Tes
Tes digunakan untuk memperoleh
data kemampuan membaca siswa yang menunjukkan letak kesulitan membaca. Pedoman
penilaian membaca terdiri atas lima aspek yang diberi skor pada masing-masing
aspek. Penilaian membaca menulis permulaan dapat dilihat sebagai berikut.
Tabel 2.
Kisi-kisi Penilaian Kemampuan Membaca Permulaan
|
No
|
Aspek
yang Dinilai
|
Indikator
|
No
|
Jumlah
|
|
|
Item
|
Item
|
||||
|
|
|
|
|||
|
|
|
|
|
|
|
|
1.
|
Mengenal huruf
|
Menyebutkan huruf
|
1
|
1
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2.
|
Membaca kata
|
Menyebutkan kata
|
2
|
1
|
|
|
|
bermakna
|
||||
|
|
|
|
|
||
|
|
|
|
|
|
|
|
3.
|
Membaca kata yang
|
Menyebutkan kata yang
|
3
|
1
|
|
|
tidak
mempunyai arti
|
tidak
mempunyai arti
|
||||
|
|
|
|
|||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Kelancaran membaca
|
Menyebutkan kata yang
|
|
|
|
|
4.
|
nyaring
dan pemahaman
|
menyusun
paragraf dan
|
4
|
1
|
|
|
|
bacaan
|
menjawab
soal
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Menyimak
|
Menjawab soal dari tes
|
|
|
|
|
5.
|
(pemahaman)
|
lisan
|
5
|
1
|
|
|
|
mendengarkan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
(Sumber: Modul Pelatihan Penyegaran EGRA: 2015)
2. Instrumen Observasi
Observasi ini bertujuan
memperoleh data tentang karakteristik kesulitan membaca permulaan siswa.
Observasi dilakukan dengan mengamati perilaku siswa saat diberikan tes membaca
yang menunjukkan karakteristik kesulitan membaca. Adapun pedoman instrumen
observasi sebagai berikut.
Tabel 3.
Kisi-kisi Pedoman Observasi Karakteristik Kesulitan Membaca
|
No
|
Aspek
yang
|
Indikator
|
No
|
Jumlah
|
|
|
Diamati
|
Item
|
Item
|
|||
|
|
|
||||
|
1.
|
Mengenal huruf
|
Mengidentifikasi huruf vokal
|
1
|
1
|
|
|
|
|
Mengidentifikasi huruf konsonan
|
2
|
1
|
|
|
|
|
Mengidentifikasi huruf diftong
|
3
|
1
|
|
|
|
|
(ny,
ng)
|
|||
|
|
|
|
|
||
|
2.
|
Membaca kata
|
Mengidentifikasi huruf
|
4
|
1
|
|
|
|
|
Merangkai susunan kata
|
5
|
1
|
|
|
|
|
Mengidentifikasi kata
|
6
|
1
|
|
|
3.
|
Membaca kata
|
Mengidentifikasi huruf
|
4
|
-
|
|
|
|
yang tidak
|
Merangkai susunan kata
|
5
|
-
|
|
|
|
mempunyai arti
|
Mengidentifikasi kata
|
6
|
-
|
|
|
4.
|
Kelancaran
|
Mengidentifikasi huruf
|
4
|
-
|
|
|
|
membaca nyaring
|
Mengidentifikasi kata
|
6
|
-
|
|
|
|
dan pemahaman
|
Penggunaan tanda baca
|
7
|
1
|
|
|
|
bacaan
|
Kelancaran membaca
|
8
|
1
|
|
|
|
|
Kemampuan menjawab soal
|
9
|
1
|
|
|
|
|
tentang
isi bacaan
|
|||
|
|
|
|
|
||
|
5.
|
Menyimak atau
|
Mendengarkan dengan penuh
|
10
|
1
|
|
|
|
pemahaman
|
Perhatian
|
|||
|
|
|
|
|||
|
|
mendengarkan
|
Kemampuan menjawab soal dari
|
11
|
1
|
|
|
|
|
teks
yang didengar
|
|||
|
|
|
|
|
||
|
3.
|
Dokumentasi
|
|
|
|
Dokumentasi dilakukan dengan menganalisis semua dokumen yang
berhubungan
dengan siswa dan mendukung data penelitian.
Tabel 4.
Kisi-kisi Dokumentasi
|
No
|
Komponen
|
Indikator
|
Keterangan
|
|
|
|
|
|
|
1.
|
Catatan guru
|
Mendeskripsikan kemampuan
|
|
|
|
|
membaca
siswa
|
|
|
|
|
|
|
|
2.
|
Nilai ulangan harian
|
Menunjukkan hasil belajar
|
|
|
|
|
siswa
|
|
|
|
|
|
|
|
3.
|
Nilai
ulangan akhir
|
Menunjukkan hasil belajar
|
|
|
|
semester
|
siswa
|
|
|
|
|
|
|
|
4.
|
Foto kegiatan
|
Mendeskripsikan kondisi siswa
|
|
|
|
|
ketika
mengerjakan tes
|
|
|
|
|
membaca
|
|
H. Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Instrumen utama yang digunakan
pada penelitian ini adalah instrumen tes. Alat tes yang digunakan tersebut
yaitu instrumen yang bernama EGRA (Early
Grade Reading Assessment). EGRA
merupakan tes terstandar yang sudah terjamin
keterandalannya, baik validitas maupun reliabilitasnya. EGRA juga sudah
terbukti sahih untuk mengumpulkan data awal yang bisa digunakan untuk menyusun
suatu program peningkatan kemampuan membaca di kelas awal. Sampai dengan tahun
2010, EGRA sudah dilaksanakan di 50 negara dengan 30 bahasa yang berbeda.
Penggunaan yang luas ini menunjukkan bahwa EGRA adalah instrumen yang baik
untuk menggambarkan kemampuan membaca anak di kelas awal (www.prioritaspendidikan.org).
Hasil dari tes kemampuan membaca
dengan menggunakan instrumen EGRA kemudian diperkuat dengan dokumentasi berupa
catatan nilai-nilai siswa. Jika perlu dapat digunakan hasil observasi tentang
kemampuan membaca permulaan siswa.
I.
Teknik
Analisis Data
Sugiyono (2012: 89) mengemukakan bahwa analisis
data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh
dengan analisis data. Analisis data dalam penelitian kuantitatif dapat
dilakukan dengan cara statistik dan non-statistik. Analisis non-statistik
adalah mencari proporsi, persentase, dan rasio. Analisis data semacam ini
disebut juga sebagai analisis statistik sederhana (Suharsimi Arikunto, 2010:
387). Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis non-statistik
dengan mencari persentase, kemudian hasilnya dideskripsikan.
Fokus permasalahan dalam
penelitian ini adalah kesulitan-kesulitan apa saja yang dialami siswa dalam
membaca permulaan. Untuk menganalisis data yang telah terkumpul, dilakukan
analisis hasil yang telah dicapai oleh siswa melalui tes. Data hasil kemampuan
membaca dianalisis dengan menggunakan teknik deskriptif melalui persentase
(Suharsimi Arikunto, 2010: 386-387).
Penghitungan analisis
non-statistik pada penelitian ini dengan langkah-langkah sebagai berikut.
1. Memberi
skor jawaban benar dari masing-masing item soal dari responden.
2. Menghitung
persentase skor yang diperoleh responden.
3.
Pemberian nilai setiap aspek
berdasarkan kategorisasi (baik sekali, baik, cukup, kurang).
4. Menghitung
persentase rata-rata dari tiap-tiap aspek membaca.
Adapun
rumus perhitungan persentase skor kemampuan membaca yang
digunakan
adalah:
Pemberian nilai yang dikategorikan dengan kurang, cukup, baik dan sangat
baik berdasarkan hasil skor yang diperoleh.
Skor ≥ 85% : Baik Sekali
65% ≤ Skor ≤ 84% : Baik
45% ≤ Skor ≤ 64% : Cukup
Skor ≤ 44% : Kurang
Komentar
Posting Komentar