ASESMEN ANAK KESULITAN BELAJAR DALAM “KETRAMPILAN MEMBACA PERMULAAN” DI KELAS RENDAH

1.      Latar Belakang Masalah
Ketrampilan membaca pada umumnya diperosleh dengan cara mempelajarinya di sekolah. Ketrampilan berbahasa ini sangatlah unik serta penting dalam pembelajaran dan sebagai alat komunikasi bagi kehidupan sehari-hari. Membaca bisa dibilang sangat unik karena ketrampilan ini tidak semua orang memilikinya. Pdahal, membaca mampu mengembangkannya menjadi alat untuk memberdayakan dirinya atau bahkan menjadikannya budaya bagi dirinya sendiri. Menurut Iskandarwassid (2008: 245), membaca merupakan hal yang penting bagi pengembangan pengetahuan karena prosentase transfer ilmu pengetahuan terbanyak dilakukan melalui membaca.
Menurut Iskandarwassid (2008: 245) Fakta dilapangan menunjukkan bahwa masyarakat negara maju ditandai oleh berkembangnya budaya membaca. Negara-negara yang masyarakatnya telah maju dan kuat seperti Amerika, Jepang, Australia, dan Prancis. Dalam diri masyarakat di negara-negara tersebut sudah memiliki tingkat membaca yang tinggi. Sementara itu, masyarakat di negara-negara berkembang masih rendah tingkat membacanya ditandai dengan rendahnya kemampuan membacanya dan minat baca yang belum tertanam dengan baik. Hal ini terjadi pada masyarakat Indonesia yang menduduki pringkat terakhir dari 27 negara yang diteliti (Iskawandarwassid,2008: 245)
Membaca merupakan kegiatan untuk mendapatkan makna dari apa yang tertulis dalam teks. Oleh karena itu, siswa harus mempersiapkan mental dalam sistem kognitifnya. Dengan demikian, kegiatan membaca bukanlah sebuah aktivitas yang mudah melainkan dalam kegiatan membaca harus diukur dengan kemampuan menjawab pertanyaan yang disusun mengikuti teks tersebut sebagai alat evaluasi. Hal ini juga sangat dipengaruhi oleh factor-faktor dari dalam maupun luar peserta didik .
Keberadaan anak dengan kesulitan belajar terutama kesulitan belajar membaa di sekolah sering dijumpai. Mereka sering dianggap oleh guru-guru maupun teman-temannya sebagai anak yang lambat dalam belajar atau anak yang bodoh karena prestasi akademik mereka yang buruk. Latar belakang anak dengan kesulitan belajar membaca sering dipengaruhi oleh berbagai kondisi eksternal dan internal diri anak.
Beberapa hasil penelitian berikut menggambarkan keragaman anak yang mengalami kesulitan belajar membaca. Penelitian Pujaningsih, dkk, pada tahun 2002 di kecamatan Berbah menemukan anak berkesulitan belajar sebesar 36% yang terdiri dari 12% lamban belajar (slow learner), 16% berkesulitan belajar spesifik (LD/learning disability) dan 17% tunagrahita (mentally retarded). Menurut Marlina (2006), mengungkapkan bahwa terdapat 55 anak berkesulitan belajar spesifik (Learning Disability/LD) di 8 SD di Padang.
Selain itu, permasalah yang sering  ditimbulkan oleh siswa yang mengalami sangatlah kompleks. Anak kesulitan belajar yang termasuk anak kesulitan belajar membaca sering mengalami kegagalan dalam kegiatan sehari-harinya yang dapat menyebabkan kensep diri yang buruk, perkembangan emosi yang buru serta kepribadian yang negatif. Bila kegagalan-kegagalan yang dialami siswa tidak segera diatasi maka permasalaha tersebut  akan menyebabkan depresi yang berat. Permasalahn yang dihadapi anak berkesulitan belajar di pengaruhi oleh banyak faktor. Terdapat siswa yang mengalami kesulitan belajar yang sama tetapi faktornya yang mempengaruhi berbeda. Begitu juga sebaliknya, terdapat faktor yang sama tapi kesulitan belajarnya yang berbeda. Faktor-faktor tersebut dapat ditimbulkan dari dalam diri atau dari luar diri siswa tersebut.
Kemampuan membaca menjadi dasar dalam penguasaan berbagai materi dalam pembelajaran. Sehingga permasalahan membaca pada anak seringkali berkaitan dengan rendahnya pengusaan mata pelajaran di sekolah. Soal yang menggunakan cerita ( terutama matematika), berbagi intruksi dalam sebuah tes, bacaan pendukung dalam mata pelajaran ( matematika, ilmu pengetahuan social, ilmu pengetahuan alam, penjaskes, dan lainya) yang membutuhkan kemampuan membaca yang baik. Ketidak mampuan membaca pada siswa tentunya menjadi hal yang sangat serius untuk di tangani.
Terrell (Smith, 1998) meyakini bahwa kemampuan belajar yang rendah menyebabkan permasalahan membaca pada anak. Permasalahan bahasa sering terkait dengan hambatan memahami orang lain, berbicara jelas dan mencari kata yang sesuai untuk mengemukakan ide/kemauan dan kurang mampu dalammengatur bahasa untuk komunikasi yang efektif (Smith, 1998; Harwell, 2001: 36). Kesulitan membaca awal bila tidak segera ditangani akan semakin bertambah berat daklam pelajaran bahasa yang lebih komplek, misalnya: kesulitan membca pemahaman, kesulitan dalam pola kalimat, kesulitan  menulis karangan, dll. Kesultan lain yang dapat ditimbulkan adalah saat berkomunikasi dan berinteraksi kepada orang lain serta mengukapkan ide ataupun menangkap ide orang lain. Bukan karena tidak peduli kepada sekitarnya tetapi sulit memproses informasi secara verbal.
Torgesen dalam (Benner, et al, 2005) menyatakan bahwa permasalahan yang dialami siswa saat membaca dipilah menjadi 2 area, yaitu: kelancaran dalam mengenali huruf secara tepat dan cepat. Anak tidak mampu mengkaitkan bunyi antar huruf dan kata dalam bacaan. Area yang kedua, terkait dengan kemampuan berbahasa oral, salah satu diantaranya pemahaman mendengar. Siswa dengan masalah pada kemampuan membaca awal mempunyai masalah dengan kemampuan memahami apa yang ia dengar karena identifikasi huruf dan kata, kata menjadi kalimat mengalami permasalahan tersebut.
Penelitian Greenbaum dkk pada tahun 1996 (Benner et al,2005) menyatakan bahwa dari sampel remaja dengan masalah sosial berusia 8-11, 12-14, dan 15-18 mempunyai permasalahan membaca sebesar 54 %, 83% dan 85%. Anak dengan masalah membaca permulaan yang disertai kemampuan adaptasi sosial yang rendah mempunyai pengalaman emosional yang negatif dan mengarah pada permasalahan antisosial yang kompleks di kemudian hari.
Bedasarkan hal tersebut maka perlu dilakuakn penelitian “Asesmen Anak  Kesulitan Belajar dalam “Ketrampilan Membca Permulaan” di kelas rendah”
2.      Rumusan Masalah
1.      Bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi siswa berkesulitan belajar membaca permulaan?
2.      Bagaimana permasalahan siswa berkesulitan belajar membaca permulaan?
3.      Bagaiman peran orangtua, guru dan lingkungan pada anak kesulitan belajar membaca permulaan?
4.      Bagaimana upaya penanganan permasalahan yang dialamai anak kesulitan belajar  membaca permulaan?
3.      Tujua Penelitian
Dari latar belakang tersebut maka tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui:
1.      Faktor-faktor yang mempengaruhi siswa berkesulitan belajar membaca permulaan,
2.      Permasalahan-permasalahan yang dialami siswa berkesulitan membaca permulaan,
3.      Peran orang tua, guru, dan lingkungan pada siswa berkesulitan membaca permulaan,dan
4.      Upaya-upaya yang dilakukan untuk penanganan permasalahan anak berkesulitan belajar membaca permulaan.
4.      Manfaat Penelitian
1.      Bagi siswa
Siswa aka lebih mengenal dirinya sendiri dan permasalahan yang sedang dialaminya(khususnya kesulitan belajar membaca permulaan), sehingga anak dapat mencari solusi yang paling tepat bagi dirinya melalui berbagi sumber di sekitarnya. Hal ini berdampak secara akademik dan psikoligis bagi kemajuan kemampuan siswa.
2.      Bagi guru
Melalui kegiatan penelitian ini, para guru akan semakin peka terhadap keberadaan anak kesulitan belajar yang berada dalam naungannya dan menambah pengetahuan mengenai anak kesulitan belajar khusus membaca permulaan sehingga mampu memberikan penangan permasalahan yang dialami siswa secara efektif.
3.      Bagi Orang Tua
Sebagai pengetahuan tentang kondisi anak mereka,sehingga mampu mendukung anak secara maksimal dalam membantu menghadapi permasalahan anaknya.
4.      Bagi Peneliti
Penelitian ini dapat menambah wawasan, pengetahuan, pengalaman tentang siswa berkesulitan belajar khususnya dalam membaca permulaan.

KAJIAN PUSTAKA
A.    Hakikat Membaca Permulaan
1.      Pengertian Membaca Permulaan
Ketrampilan membaca pada umumnya diperoleh dengan cara mempelajarinya di sekolah. Ketrampilan berbahas ini merupakan suatu ketrampilan yang sangat unik serta berperan penting bagi perkembangan pengetahuan, dan sebagai alat komunikasi bagi kehidupan manusia. Seseorang akan memperoleh informasi, ilmu, dan pengalaman dengan cara membaca. Dengan membaca seseorang dapat mempertajam pemikiranya dan memperluas wawasannya. Oleh sebab itu peran guru mengajarkan membaca di sekolah sangat penting.
Menurut klien, dkk (Farida Rahim, 2005: 3), membaca mencakup (1) membaca merupakan suatu proses, (2) membaca adalah strategis, dan (3) membaca merupakan interaktif. Membaca merupakan suatu proses dimana informasi dari teks dan pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca mempunyai peranan yang utama dalam membentuk makna.
Glenn Doman (Anna Yulia, 2005: 19) mengemukakan bahwa membaca merupakan salah satu fungi yang paling penting dalam hidup dan dapat dikatakan bahwa semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Membaca dapat diartikan sebagai suatu metode yang digunakan untuk berkomunikasi dengan diri sendiri dan kadang-kadang dengan orang lain yaitu mengkomunikasikan makna yang terkandung atau tersirat pada lambang-lambang tertulis (Henry Guntur Tarigan, 1985: 8). Menurut Lerner (Rini Utami Aziz, 2006: 15), kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang studi. Jika anak pada usia permulaan sekolah tidak segera memiliki kemampuan membaca, ia akan mengalami kesulitan dalam mempelajari bidang studi lain. Dariuraian beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa membaca adalah suatu proses menafsirkan simbol-simbol dan lambang-lambang dalam bahasa yang diikuti oleh pengalaman pembaca yang digunakan sebagai alat untuk menginterpretasikan simbol-simbol dan lambang-lambang tersebut sehingga menjadi suatu kata atau kalimat yang mempunyai makna.
 Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa membaca permulaan adalah suatu aktivitas untuk mengenalkan rangkaian huruf dengan bunyi-bunyi bahasa. Membaca ada dua yaitu membaca permulaan yang dipelajari siswa kelas 1 dan 2, dan membaca pemahaman yang dipelajari siswa sejak kelas 3. Membaca permulaan ini dipelajari di kelas 1 dan 2 mempunyai tujuan agar siswa memiliki kemampuan memahami dan menyuarakan tulisan dengan intonasi yang tepat. Selain itu, membaca permulaan sebagai dasar untuk dapat membaca lanjut.
2.       Tujuan Membaca Permulaan
 Iskandarwassid (2008: 289) menyampaikan bahwa tujuan pembelajaran membaca permulaan bagi peserta didik adalah sebagai berikut:
a.       mengenali lambang-lambang (simbol-simbol bahasa),
b.      mengenali kata dan kalimat,
c.       menemukan ide pokok dan kata-kata kunci, dan
d.      menceritakan kembali isi bacaan pendek.
 Menurut Herusantosa (1992: 20), tujuan pembelajaran membaca permulaanagar peserta didik mampu memahami dan menyuarakan kalimat sederhana yang ditulis dengan intonasi yang wajar, peserta didik dapat membaca kata-kata dan kalimat sederhana dengan lancar dan tepat dalam waktu yang relatif singkat (Saleh Abbas, 2006: 103).
3.  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Membaca
 Menurut Farida Rahim (2005: 16), mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca adalah sebagai berikut.
a.       Faktor Fisiologis
Faktor fisiologi meliputi kesehatan fisik, pertimbangan neurologis, dan jenis kelamin. Menurut beberapa ahli, keterbatasan neurologis seperti cacat otak dan kekurangmatangan secara fisik merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan peserta didik tidak berhasil dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman mereka.
b.      Faktor Intelektual
Terdapat hubungan positif antara kecerdasan yang diindikasikan oleh IQ dengan rata-rata peningkatan remedial membaca tetapi tidak semua siswa yang mempunyai kemampuan intelegensi tinggi menjadi pembaca yang baik.
c.       Faktor Lingkungan
Lingkungan yang meliputi latar belakang dan pengalaman peserta didik mempengaruhi kemampuan membacanya. Peserta didik tidak akan menemukan kendala yang berarti dalam membaca jika mereka tumbuh dan berkembang di dalam rumah tangga yang harmonis, rumah yang penuh dengan cinta kasih, memahami anak-anaknya, dan mempersiapkan mereka dengan rasa harga diri yang tinggi.

d.      Faktor sosial ekonomi siswa
            Status sosial ekonomi siswa mempengaruhi kemampuan verbal siswa. Hal ini dikarenakan jika peserta didik tinggal dengan keluarga yang berada dalam taraf sosial ekonomi yang tinggi kemampuan verbal mereka juga akan tinggi. Hal ini didukung dengan fasilitan yang diberikan oleh orang tuanya yang berada pada taraf sosial ekonomi tinggi. Lain halnya peserta didik yang tinggal di keluarga yang sosial ekonomi rendah. Orangtua mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan anaknya dan anaknya cenderung kurang percaya diri.
e. Faktor Psikologis
Faktor psikologis meliputi motivasi, minat, dan kematangan sosial,emosi, serta penyesuaian diri.

  1. Hakikat Siswa Berkesulitan Belajar

1.  Pengertian Berkesulitan Belajar
              Erman Amti dan Marjohan (1992: 67) (Sri Rumini, 2003: 7) Kesulitan belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh peserta didik dan menghambat kelancaran proses belajarnya. Kondisi tertentu tersebut ada dalam dirinya yaitu berupa kelemahan-kelemahan yang dimilikinya maupun lingkungan yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Oleh karena itu, dari pernyataan tersebut dapat dibagi menjadi tujuh golongan yaitu:
a.       mempunyai IQ tinggi, bakat akademik tinggi, tetapi prestasi belajarnya hanya rata-rata kelas, atau bahkan di bawah rata-rata kelas. Peserta didik ini disebut under achiever,
b.      memiliki inteligensi normal, tetapi tidak dapat dimanfaatkannya secara baik. Mereka peserta didik yang mempunyai keterlambatan akademik,
c.       mempunyai IQ sekitar 70-90 dan mempunyai kemampuan yang kurang memadai. Mereka termasuk anak slow learner,
d.      malas belajar karena kurang motivasi belajar,
e.       sikap dan kebiasaan belajar yang buruk seperti menunda-nunda tugas, belajar pada saat akan ujian saja,
f.       ditempatkan pada kelas yang tidak sesuai seperti ditinjau dari umur, kemampuan, minat sosial, peserta didik terlalu tinggi atau terlalu rendah dalam kelas, dan
g.      sering tidak hadir di sekolah karena sakit atau membolos sehingga kehilangan kesempatan belajarnya.
Hammill, et al.(1981) (Sri Rumini, 2003) Kesulitan belajar adalah beragam bentuk kesulitan yang nyata dalam aktivitas mendengarkan, bercakap-cakap, membaca, menulis, menalar, dan/atau dalam berhitung. Gangguan tersebut berupa gangguan intrinsik yang diduga karena adanya disfungsi sistem saraf pusat. Kesulitan belajar bisa terjadi bersamaan dengan gangguan lain (seperti gangguan sensoris, hambatan sosial, dan emosional) dan pengaruh lingkungan (seperti perbedaan budaya atau prosespembelajaran yang tidak sesuai). Gangguan-gangguan eksternal tersebut tidak menjadi faktor penyebab kondisi kesulitan belajar, walaupun menjadi factor yang memperburuk kondisi kesulitan belajar yang sudah ada.
ACCALD (Association Committee for Children and Adult Learning Disabilities) dalam Lovitt, (1989) Kesulitan belajar khusus adalah suatu kondisi kronis yang bersumber dari masalah neurologis, dimana kondisi tersebut mengganggu perkembangan kemampuan mengintegrasikan dan kemampuan bahasa verbal maupun nonverbal. Siswa berkesulitan belajar memiliki inteligensi tergolong rata-rata atau di atas rata-rata dan memiliki cukup kesempatan untuk belajar. Mereka tidak memiliki gangguan sistem sensorik.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa siswa dapat dikatakan mengalami kesulitan belajar apabila siswa tersebut tidak berhasil mencapai tujuan yang dipersyaratkan dalam proses pembelajaran yang berdasarkan tujuan pendidikan yang terdapat pada program sekolah, tingkat pencapaian yang diharapkan, beradaptasi dalam kelompok, kesenjangan antara potensi dan prestasi, serta kepribadian yang dimilikinya.
2.      Ciri-Ciri Anak Berkesulitan Membaca
 Menurut Rini Utami Aziz (2006: 16), anak yang mengalami kesulitan membaca biasanya terlihat dari gerakannya saat membaca (ada yang tegang, gugup, bahkan ada yang menangis) ketika disuruh membaca. Anak sering mengalami kekeliruan dalam mengenal kata-kata sehingga untuk memahami kalimat pun jauh dari harapan. Sering terjadi antara kalimat yang ditanyakan dan jawaban tidak cocok. Menurut Rini Utami Azis (2006: 16), beberapa ciri khusus anak berkesulitan membaca di antaranya:
a.       memori visual (penglihatan) dan auditorial (pendengaran) yang miskin,
b.      kelemahan memori jangka pendek dan jangka panjang,
c.       kesulitan mengingat hari dalam satu minggu dan waktu,
d.      kesulitan membedakan kiri dan kanan,
e.       kurang koordinasi dan keseimbangan,
f.       sulit mengeja kata dan huruf,
g.      kurang bisa membaca simbol bunyi, dan
h.      lemahnya kemampuan berpikir konseptual.
3.      Dampak Kesulitan Belajar
Menurut Darmiyati Zuchdi dan Budiasih (1997), di berbagai negara pengajaran membaca permulaan ini merupakan persoalan yang sangat rumit. Di Indonesia, pelaksanaan pengajaran membaca permulaan dilakukan dengan menggunakan bahan bacaan dalam bahasa Indonesia. Padahal, sebagian besar anak Indonesia lahir dan tumbuh sebagai insan daerah yang menggunakan bahasa daerah. Oleh karena itu, ketidakmampuan membaca permulaan pada siswa tentunya menjadi masalah dan hal yang serius untuk segera ditangani. Hal ini disebabkan karena kemampuan membaca yang diperoleh pada membaca permulaan akan sangat mempengaruhi kemampuan membaca lanjut. Sebagai kemampuan yang mendasari kemampuan berikutnya maka kemampuan membaca permulaan benar-benar memerlukan perhatian guru. Jika kemampuan membaca permulaan itu dasarnya tidak kuat maka pada tahap membaca lanjut siswa mengalami kesulitan untuk dapat memiliki kemampuan membaca yang memadai.

METODE PENELITIAN


A.    Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Nana Syaodih Sukmadinata (2010: 54) mengemukakan bahwa penelitian deskriptif merupakan penelitian dengan tujuan mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti sebagaimana adanya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, karena data yang dikumpulkan berbentuk angka–angka yang dideskripsikan.

Penelitian ini dimaksudkan untuk mendiskripsikan suatu keadaan, melukiskan dan menggambarkan bentuk kesulitan membaca permulaan siswa kelas I SD Negeri Bangunrejo 2. Dalam penelitian ini yang akan diamati adalah siswa kelas I SD Negeri Bangunrejo 2 dengan berbagai kemampuan dan karakteristiknya. Dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif, data yang akan didapatkan lebih tepat dan akurat sehingga tujuan penelitian ini dapat tercapai.

B.       Setting Penelitian

1.      Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di kelas I SD Negeri Bangunrejo 2 yang beralamat di Jalan Bangunrejo RT 56 RW 13 Kricak Yogyakarta.


2.            Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada semester gasal-genap dengan alokasi waktu dari bulan Februari-Agustus 2016. Berikut rincian jadwal pelaksanaan penelitian:

Tabel 1. Jadwal Pelaksanaan Penelitian

No
Kegiatan






Waktu/ Bulan























Oktb
Feb


Mar
Apr
Mei

Juni


Juli

Agust

















1.
Observasi
































2.
Bimbingan proposal






























3.
Pengambilan data






























4.
Pengolahan data































5.
Bimbingan bab 4-5































6.
Penyelesaian skripsi































7.
Penyusunan jurnal































8.
Ujian sidang skripsi































9.
Revisi laporan































10.
Review jurnal































11.
Publikasi

































C.       Populasi dan Sampel Penelitian

1.      Populasi Penelitian

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Suharsimi Arikunto, 2010: 173). Populasi didalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas I SD Negeri Bangunrejo 2 Yogyakarta yang keseluruhannya berjumlah 18 siswa.

2.    Sampel Penelitian

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karateristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2012: 62). Hal serupa juga dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto yang mengatakan bahwa adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti. Adapun cara pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu dipilih dengan pertimbangan dan tujuan tertentu (Sugiyono, 2013: 216). Sesuai tujuan penelitian ini, maka sampel penelitiannya yaitu siswa yang mengalami kesulitan membaca permulaan yang ditandai dengan skor atau nilai yang kurang pada hasil tes kemampuan membaca.
D.    Sumber Data

Suharsimi Arikunto (2006: 129) menyatakan bahwa sumber data dalam penelitian adalah subyek dari mana data dapat diperoleh. Adapun pengertian data menurut Muhammad Idrus (2009: 61) adalah segala keterangan (informasi) mengenai semua hal yang berkaitan dengan tujuan penelitian. Selanjutnya Muhammad Idrus (2009: 86) menjelaskan data menurut derajat sumbernya (asal diperolehnya data) dibagi menjadi data primer dan sekunder.

1.         Data Primer

Data primer merupakan data yang diperoleh peneliti dari sumber asli (langsung dari informan) yang memiliki informasi atau data tersebut. Dalam penelitian ini sumber data primer didapatkan melalui hasil tes membaca yang dilakukan peneliti terhadap siswa kelas I SD Negeri Bangunrejo 2.

2.         Data Sekunder

Jika data primer informasi atau datanya diambil dari sumber asli, data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber kedua sebagai data yang digunakan untuk mendukung pembahasan-pembahasan yang ada di dalam
penelitian. Adapun data sekunder tersebut berupa dokumen-dokumen nilai ulangan siswa, catatan kondisi siswa, dan foto berkaitan dengan kegiatan membaca siswa.

E.   Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2013: 38). Variabel dalam penelitian ini menggunakan variabel tunggal karena hanya menggunakan satu variabel, yaitu kesulitan membaca permulaan. Adapun kesulitan membaca tersebut terdiri dari lima aspek, yaitu membaca huruf, membaca kata bermakna, membaca kata yang tidak mempunyai arti, kelancaran membaca nyaring dan pemahaman bacaan serta menyimak atau pemahaman mendengarkan.

F.    Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data. Menurut Sugiyono (2010: 308) teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Muhammad Idrus (2009: 99) menambahkan bahwa untuk memperoleh data yang sesuai tujuan penelitian, peneliti menggunakan instrumen untuk mengumpulkan data. Dengan demikian maka kedudukan instrumen menjadi sangat penting karena kondisi data tergantung instrumen yang dibuat. Penggunaan instrumen penelitian berkaitan dengan teknik apa yang akan digunakan untuk mengumpulkan data. Penelitian ini mengunakan beberapa teknik pengumpulan data, sebagai berikut.
1.      Tes

Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Suharsimi Arikunto, 2013: 193-194). Lebih lanjut dikatakan bahwa dalam metode tes, peneliti menggunakan instrumen berupa tes atau soal-soal tes. Soal tes yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari 5 butir tes (item) terdiri dari 4 butir tes tertulis dan 1 butir tes lisan yang masing-masing mengukur satu jenis subvariabel.

2.   Observasi

Menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2010: 220) observasi (observation) atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung. Ada dua macam observasi menurut Sugiyono (2007: 204) dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data, yaitu participant observation (observasi berperan serta) dan non participant observation (observasi non partisipan). Selanjutnya dari segi instrumentasi yang digunakan, maka dibedakan menjadi observasi terstruktur dan tidak terstruktur.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan observasi non partisipan, yaitu peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat independen. Peneliti mencatat, menganalisis, dan membuat kesimpulan tentang kesulitan membaca siswa kelas I SD N Bangunrejo 2. Sedangkan dari segi instrumentasi yang digunakan, peneliti menggunakan observasi terstruktur karena observasi telah dirancang sistematis, tentang apa yang diamati, kapan, dan di mana tempatnya. Observasi ini berfungsi untuk menguatkan data hasil tes kemampuan membaca. Observasi pada penelitian ini untuk memperoleh data tentang karakteristik siswa yang mengalami kesulitan membaca permulaan.
3.   Dokumentasi

Menurut Djam’an Syatori dan Aan Komariah (2011: 149) studi dokumentasi yaitu mengumpulkan dokumen-dokumen dan data-data yang diperlukan dalam penelitian lalu ditelaah secara intens sehingga dapat mendukung dan menambah keercayaan dan pembuktian suatu kejadian. Dokumen dapat berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger, agenda, dan sebagainya (Suharsimi Arikunto, 2006: 231).

Dalam penelitian ini, peneliti menganalisis dokumen sekolah berupa catatan guru tentang kemampuan membaca siswa, hasil belajar siswa (nilai ulangan harian) dan nilai ujian akhir semester (UAS) pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.

G.    Instrumen Penelitian

Instrumen merupakan alat yang digunakan dalam pengumpulan data. Data-data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan lembar tes, observasi, dan dokumentasi. Berikut instrumen-instrumen untuk pengambilan data.

1.    Instrumen Tes

Tes digunakan untuk memperoleh data kemampuan membaca siswa yang menunjukkan letak kesulitan membaca. Pedoman penilaian membaca terdiri atas lima aspek yang diberi skor pada masing-masing aspek. Penilaian membaca menulis permulaan dapat dilihat sebagai berikut.

Tabel 2. Kisi-kisi Penilaian Kemampuan Membaca Permulaan

No
Aspek yang Dinilai
Indikator
No
Jumlah
Item
Item








1.
Mengenal huruf
Menyebutkan huruf
1
1





2.
Membaca kata
Menyebutkan kata
2
1

bermakna









3.
Membaca kata yang
Menyebutkan kata yang
3
1
tidak mempunyai arti
tidak mempunyai arti









Kelancaran membaca
Menyebutkan kata yang


4.
nyaring dan pemahaman
menyusun paragraf dan
4
1

bacaan
menjawab soal








Menyimak
Menjawab soal dari tes


5.
(pemahaman)
lisan
5
1

mendengarkan








(Sumber: Modul Pelatihan Penyegaran EGRA: 2015)

2.    Instrumen Observasi

Observasi ini bertujuan memperoleh data tentang karakteristik kesulitan membaca permulaan siswa. Observasi dilakukan dengan mengamati perilaku siswa saat diberikan tes membaca yang menunjukkan karakteristik kesulitan membaca. Adapun pedoman instrumen observasi sebagai berikut.

Tabel 3. Kisi-kisi Pedoman Observasi Karakteristik Kesulitan Membaca

No
Aspek yang
Indikator
No
Jumlah
Diamati
Item
Item


1.
Mengenal huruf
Mengidentifikasi huruf vokal
1
1


Mengidentifikasi huruf konsonan
2
1


Mengidentifikasi huruf diftong
3
1


(ny, ng)




2.
Membaca kata
Mengidentifikasi huruf
4
1


Merangkai susunan kata
5
1


Mengidentifikasi kata
6
1
3.
Membaca kata
Mengidentifikasi huruf
4
-

yang tidak
Merangkai susunan kata
5
-

mempunyai arti
Mengidentifikasi kata
6
-
4.
Kelancaran
Mengidentifikasi huruf
4
-

membaca nyaring
Mengidentifikasi kata
6
-

dan pemahaman
Penggunaan tanda baca
7
1

bacaan
Kelancaran membaca
8
1


Kemampuan menjawab soal
9
1


tentang isi bacaan




5.
Menyimak atau
Mendengarkan dengan penuh
10
1

pemahaman
Perhatian




mendengarkan
Kemampuan menjawab soal dari
11
1


teks yang didengar




3.
Dokumentasi




Dokumentasi   dilakukan   dengan   menganalisis    semua   dokumen    yang

berhubungan dengan siswa dan mendukung data penelitian.

Tabel 4. Kisi-kisi Dokumentasi

No
Komponen
Indikator
Keterangan




1.
Catatan guru
Mendeskripsikan kemampuan



membaca siswa





2.
Nilai ulangan harian
Menunjukkan hasil belajar



siswa





3.
Nilai   ulangan   akhir
Menunjukkan hasil belajar


semester
siswa





4.
Foto kegiatan
Mendeskripsikan kondisi siswa



ketika mengerjakan tes



membaca




H.    Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Instrumen utama yang digunakan pada penelitian ini adalah instrumen tes. Alat tes yang digunakan tersebut yaitu instrumen yang bernama EGRA (Early Grade Reading Assessment). EGRA merupakan tes terstandar yang sudah terjamin keterandalannya, baik validitas maupun reliabilitasnya. EGRA juga sudah terbukti sahih untuk mengumpulkan data awal yang bisa digunakan untuk menyusun suatu program peningkatan kemampuan membaca di kelas awal. Sampai dengan tahun 2010, EGRA sudah dilaksanakan di 50 negara dengan 30 bahasa yang berbeda. Penggunaan yang luas ini menunjukkan bahwa EGRA adalah instrumen yang baik untuk menggambarkan kemampuan membaca anak di kelas awal (www.prioritaspendidikan.org).

Hasil dari tes kemampuan membaca dengan menggunakan instrumen EGRA kemudian diperkuat dengan dokumentasi berupa catatan nilai-nilai siswa. Jika perlu dapat digunakan hasil observasi tentang kemampuan membaca permulaan siswa.

I.          Teknik Analisis Data

Sugiyono (2012: 89) mengemukakan bahwa analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dengan analisis data. Analisis data dalam penelitian kuantitatif dapat dilakukan dengan cara statistik dan non-statistik. Analisis non-statistik adalah mencari proporsi, persentase, dan rasio. Analisis data semacam ini disebut juga sebagai analisis statistik sederhana (Suharsimi Arikunto, 2010: 387). Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis non-statistik dengan mencari persentase, kemudian hasilnya dideskripsikan.

Fokus permasalahan dalam penelitian ini adalah kesulitan-kesulitan apa saja yang dialami siswa dalam membaca permulaan. Untuk menganalisis data yang telah terkumpul, dilakukan analisis hasil yang telah dicapai oleh siswa melalui tes. Data hasil kemampuan membaca dianalisis dengan menggunakan teknik deskriptif melalui persentase (Suharsimi Arikunto, 2010: 386-387).

Penghitungan analisis non-statistik pada penelitian ini dengan langkah-langkah sebagai berikut.

1.    Memberi skor jawaban benar dari masing-masing item soal dari responden.

2.    Menghitung persentase skor yang diperoleh responden.

3.    Pemberian nilai setiap aspek berdasarkan kategorisasi (baik sekali, baik, cukup, kurang).

4.    Menghitung persentase rata-rata dari tiap-tiap aspek membaca.

Adapun rumus perhitungan persentase skor kemampuan membaca yang

digunakan adalah:





Pemberian nilai yang dikategorikan dengan kurang, cukup, baik dan sangat baik berdasarkan hasil skor yang diperoleh.

Skor ≥ 85%                            : Baik Sekali

65% ≤ Skor ≤ 84%             : Baik

45% ≤ Skor ≤ 64%             : Cukup

Skor ≤ 44%                            : Kurang



Komentar

Postingan populer dari blog ini

pahami ya

pahami sendiri